corat-coret (yesa-jeje.blogspot.com)

Kamis, 16 Februari 2012

anjing-anjingku :D

 
Panda :)


 
Browndy :)



 
Alma :)



 
 Kumbang :)



 
Buklin :) (coklat) ; Anjing tetangga :) (kanan Buklin)



 
Boni :)



 
 Ciko :)



 
 Imil :) (coklat) ; Blacky :) (item)

Rabu, 01 Februari 2012

Panda




“Panda!!!” teriak gadis kecil itu memanggil anjingnya, Panda. Dengan ramah, Panda menyambut kedatangan gadis kecil itu pulang dari sekolah. Terlihat betapa bahagianya Panda menyambut gadis kecil itu.
“Permisi, mas. Panda mati di samping rumah saya. Sepertinya diobati orang” terdengar samar-samar ucapan mbah-mbah. Gadis itu langsung terbangun dari tidurnya. Tak yakin dengan suara yang di dengarnya dari dalam kamar, gadis itu mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya terlebih dahulu. Kesadaran yang rencana akan dikumpulkan untuk meyakinkan kebenaran suara itu, tak berlangsung lama suara ayahnya menjawab rasa tak yakin dalam diri gadis itu.
“Hah? Mati? Ya, mbah. Makasih” kata ayahnya yang langsung membuat gadis itu reflek berlari keluar.
Dalam dinginnya pagi itu, gadis itu tak merasakan tusukan hawa dingin yang dengan penuh semangat menusuk sarafnya. Dia begitu lemas tak berdaya melihat anjingnya, Panda, yang terbujur kaku dengan mata tertutup tak bergerak sedikitpun. Gadis itu mencoba mengumpulkan tenaganya yang entah hilang kemana untuk memanggil nama anjingnya itu.
“Panda.” suara lirih muncul diiringi dengan cucuran air mata yang mengalir begitu deras. Tetap saja panda tak bergerak, tak menunjukkan perubahan yang diinginkan gadis itu. Tak kuasa membendung kesedihan yang ada, gadis itu menangis tersedu. Tetangga yang mendengar suara tangisan pun satu persatu keluar dari rumah. Suara tetangga yang sibuk membahas tentang kematian Panda tak terdengar jelas oleh gadis itu karena terkalahkan dengan suara tangisnya sendiri.
Tak berselang lama, ayah gadis kecil itu datang untuk membawa Panda pulang untuk dimakamkan. Gadis itu lagi-lagi berusaha untuk bangun mengikuti ayahnya yang telah membawa Panda pergi.
“Panda, kenapa kamu nggak berontak ketika ayah membopongmu? Bukannya kamu nggak suka bila ada orang yang membopongmu? Ayo, Panda marah!” kata gadis itu dalam hati menyadari dirinya tak dapat berkata-kata karena tahanan gigitan bibirnya yang begitu kuat.
Ayahnya mulai menggali lubang untuk memakamkan Panda. Gadis kecil itu memandangi Panda, tetap saja Panda tak bergerak. Terlihat Ciko, anjing kecilnya yang lain, datang mendekati Panda. Untuk kesekian kalinya tangis gadis kecil itu meledak saat sang ayah memasukkan Panda dan menutup lubang galian untuk makam Panda. Ciko menghampiri gadis itu, dia bias merasakan apa yang dirasakan gadis itu.
“Cikoooooo. Panda, ko” tangis gadis itu semakin meledak dan menjadi ketika dia memeluk ciko. Setelah makam Panda tertutup gadis itu tetap berdiri mematung memandanginya.
“Disana, iya disana panda tertidur.”
“Baik-baik ya, Panda”

Gadis itu  mengira panda akan terus menemaninya sampai belasan tahun yang akan datang. Tapi ternayata panda harus pergi sekarang, 31 Januari 2012. Gadis itu masih ingat ketika panda takut petir, takut hujan, takut angin, takut air, takut kambing.  Gadis itu masih ingat ketika panda menemaninya bermain, belajar, makan, sepedaan. Gadis itu masih ingat ketika panda marah dengan ciko yang berkali-kali tak mau berbagi makanan dengannya. Gadis itu masih ingat gonggongannya, keramahannya, kebodohannya, kehangatannya, baunya, suara pukulan ekornya di motornya, hidungnya yang berair, pipinya yang gendut, gearkan tubuhnya saat berlari, injakan kakinya. Gadis itu masih ingat ketika dia setiap pagi mencari rambutan jatuh di depan rumah untuk dimakan, memakan sisa makanannya, lompat pagar ketika dia ingin main, mengejar anak-anak kecil yang selalu menggangunya, mengubur makanannya di tanah. Iya, Gadis itu masih ingat itu semuanya. Terlalu banyak kenangan yang terukir selama lebih kurang tiga tahun bersama. Selamat jalan, Panda :’)