corat-coret (yesa-jeje.blogspot.com)

Jumat, 30 Agustus 2013

TADAAAAAAAAA!!!



Yak! Setelah bertahun-tahun kanvas ini terdiam di pojokan gudang, akhirnya pada hari kamis tanggal 29 Agustus 2013 mulai melepas masa penantiannya. Peralatan pun telah disiapkan. Dimulai dari pensil, kertas gambar, dan penghapus. Ternyata benar pepatah yang mengatakan “Orang yang gagal adalah orang yang sama sekali tidak mau mencoba”, saudara-saudara. Awalnya duluuuuu sekali, saya pikir kanvas yang dicoret pakai pensil tuh nggak bisa dihapus, Ternyata SALAH BESARRRR! Bisa dihapus, saudara!
Langkah pertama, buka plastik pembungkusnya. Ohh ternyata masih bagus dan bersih. Karena saya adalah seorang pemula yang sekedar ingin memanfaatkan kanvas tersebut untuk memenuhi dinding kamar kos saya, maka saya cukup dibuat bingung dengan “APA YANG HARUS SAYA GAMBAR?”. Bermenit-menit saya memandangi sekeliling saya, mmmmm makin bingung. Lalu saya sambar HP saya, saya buka foto-foto yang ada. Buka tutup folder berlangsung selama bermenit-menit. Akhirnya pilihan saya jatuhkan pada empat buah gambar harimau, macan, jerapah, dan beruang.
Langkah kedua, saya mencoba menggambar di kertas gambar dulu. Setelah selesai dan dengan pertimbangan yang matang, saya jatuhkan pilihan saya pada gambar harimau. Langkah ketiga, menuangkan coretan pada kanvas. Srettt srettt sreeettt. Selesailah sket muka harimaunya. Perasaan saya mengatakan kalau gambar ini aneh, dan sepertinya ini bukan gambar harimau, tapi anjing. Oke! Ganti gambar. Dihapus. Pilihan selanjutnya saya jatuhkan pada gambar beruang. Yak! Cukup lumayan. Karena matahari sudah mau terbenam, saya putuskan untuk melanjutkannya esok hari.
Jumat, 30 Agustus 2013. Langkah keempat, pewarnaan. Alat-alatnya sudah disiapkan. Mulai dari pewarna, kuas, palet, tisu, air putih. Untuk pertama kalinya saya mewarna di atas kanvas cukup membuat saya degdegan. Mulai dari mewarnai anak-anak beruangnya dulu, beri coretan warna hitam, lalu ditindih warna coklat, lalu diapa ya namanya, “Jlarit-jlarit” mungkin, entahlah pokoknya itu dengan pegangan kuasnya yang di atas (yang bukan rambutnya). Warnanya pake perasaan, dikira sudah cukup dan pas ya sudah. Dilanjutkan dengan gambar ayah dan ibunya beruang.
Selesaaaaaai. Dan selanjutnya adalah masalah yang cukup serius. Backgroundnya -..-. Saya benar-benar takut ini mau diwarna apa. Setelah mencoba dan terus mencoba dengan mencampur warna hijau muda, hujau tua, biru, dan cream apa emas, entahlah, maka didapatkan hasil background yang semacam itu.
Langkah terakhir, menegaskan garis-garis dengan warna hitam.  Good job!
Sebagai pemula, okelah  :3

Selasa, 23 Juli 2013

Rawit dan Kehidupannya :)

    
     Senin, 22 Juli 2013, pukul 20.15 wib. Selang waktu pukul 16.30 - pukul 20.15 rawit meninggal. Rawit meninggalkan tiga anak dan dua suami, cabe dan gembul.
     Siang itu sekitar awal bulan Mei cuaca sangatlah terik. Aku masih ingat hari itu hari minggu. Sepulang dari gereja, aku dan ibu pergi ke Klaten untuk menukar hamster yang aku beli hari jumat. Hamster jenis winter white yang aku namai winter yang rencananya akan aku jodohkan dengan white, hamster pemberian Amel, terpaksa harus aku kembalikan untuk ditukar dengan hamster yang cocok dengan white. Begitu pula hamster pemberian cuma-cuma dari penjual yang berjenis campbel yang sudah berumur tua yang aku namakan dengan campbel juga akan aku kembalikan, karena terlalu agresif terhadap white.
     Sedih? IYA. Walaupun hanya dua hari aku mengenalnya, tapi winter dan campbel sudah seperti adik bagiku. Ada rasa tak mau menukar dan mengembalikan, tapi itu harus dilakukan. White yang saat itu masih remaja sangat takut dengan winter dan campbel, yang selalu mengejarnya, walau sebenarnya mereka hanya ingin berkenalan. Tapi apa daya, suara white yang selalu mencicit ketakutan selalu mengganggu pikiranku, takut sesuatu yang buruk menimpa salah satu dari mereka.
     Sesampainya di toko hamster, aku dan ibu langsung mencari pengganti untuk winter dan mengembalikan campbel. Campbel saat itu langsung dilepas di alam liar (Maaf campbel, aku udah jahat sama kamu. Maaf kalau kamu harus menjalani hidup yang keras di alam liar. Aku baru menyadari kesalahanku sekitar seminggu kemudian tentang bahaya alam liar yang akan kamu hadapi. Tapi aku yakin, kamu akan baik-baik saja. Tuhan memberkatimu,Campbel (9._.)9). Karena sang penjual tidak bisa berlama-lama karena ada keperluan mendadak, aku tanpa bantuan ibu, karena ibu takut bayi hamster yang masih merah-merah, langsung mencari pengganti untuk winter.
     Karena waktu yang semakin mendesak, maka aku dan ibu memutuskan untuk membeli yang sepasang saja, tanpa mencocokkan white dengan hamster jantan lain. White memang susah dan tidak murahan, jadi tidak sembarangan hamster jantan mampu mendekatinya. Pilihanku kujatuhkan pada sepasang hamster jenis winter white yang sedang bergerak lincah sembari menatap jemariku yang mencoba untuk mengenalnya dengan sedikit sentuhan. Baik, aku putuskan untuk membeli hamster itu. Warna rambutnya mirip dengan white, tapi badannya lebih besar dan tampak lebih dewasa. Aku suka dan selalu berharap, mereka bertiga bisa akur nantinya.
     Selama perjalanan pulang kedua hamster itu benar-benar tak bisa diam. Mereka menggerogoti kardus yang dipakai untuk kandang di perjalanan. Bolong? IYA dan besar. Sesampainya di rumah, kedua hamster baru dan white terlihat lelah. Aku khawatir, mereka diam dan terlihat lemah. Aku takut mereka kenapa-kenapa. Lalu dengan berbekal pengalaman, aku melepaskan mereka di lantai dan membiarkan mereka mengeksplorasi setiap sudut rumah sembari menenangkan diri mereka sendiri. Benar, mereka kembali pulih setelah beberapa waktu. Tapi white lalu menyerang kedua hamster baru itu, lalu dengan cepat kupisahkan. Kedua hamster baru itu kunamakan cabai dan rawit, cabai untuk si pejantan dan rawit untuk si betina. Karena menurutku itulah nama yang tepat untuk mereka yang kuat dan keras. Lalu mereka aku masukkan ke aquarium dengan sekat, white sendiri, sedangkan cabai dengan rawit.
     Aku merawat mereka dari Jogja dengan bantuan bapak, ibu, adek, dan nenek melalui sms. Sepulang aku dari retreat dan telah sampai di rumah, tepatnya hari sabtu, aku dikejutkan dengan kabar rawit yang melahirkan lima bayi hamster saat jumat malam. Sontak aku sangat gembira dan langsung melihat keadaan rawit, karena tidak menyangka rawit telah hamil saat aku pertama kali membelinya. Sebagai pemula, aku dilanda kecemasan akan kelahiran pertama ini. Aku mencari berbagai sumber untuk mengetahui perawatan yang nyata untuk keadaan pasca persalinan seperti ini.
     Menurut temanku, induk betina tetap disatukan dengan bayinya, sedangkan mereka dipisah dengan induk jantannya. Saran itu aku lakukan sampai usia bayi hamster tiga minggu. Namun selama itu hanya dua bayi yang mampu bertahan. Selama tiga minggu itu, rawit dikandang bersama bayi hamsternya terpisah dengan cabai. Si cabai awalnya tinggal sendiri dan tetanggaan dengan si white, akhirnya karena kesepian maka white mau menerima cabai saat aku mencoba untuk menyatukan cabai dengan white. Lalu white dan cabai menjadi sepasang kekasih.
     Saat bayi rawit sudah menginjak usia tiga minggu, aku memindahkannya di aquarium yang tetanggaan dengan pasangan baru, white dan cabai. Karena aku belum mau memisahkan rawit dengan kedua anaknya, maka aku membiarkan rawit tetap bersama kedua anaknya, sedangkan cabai dengan white.
     Hari itu hari minggu, aku masih ingat betul kejadian pahit yang menimpa rawit yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri. Saat itu, tiba-tiba terdengar suara mencicit yang menunjukkan rasa kesakitan yang luar biasa. Aku langsung berlari memastikan keempat hamsterku baik-baik saja. Aku ternyata salah. Whita memanjat pagar pembatas dan menggigit salah satu anak rawit sampai berdarah dan mereka berdua membentuk bola dalam keadaan pause. Susah melepaskan gigitan white kepada anaknya rawit. Alhasil saat white mau melepaskan gigitannya, anak itu sudah lemah dan kesakitan dengan kondisi yang aku sendiri sudah menginginkan segeralah kematian mengunjungi anak itu. Aku tak kuasa melihat beban penderitaan yang harus ditanggung anak hamster sekecil itu. Aku terus menemani dan mencoba menyeka darah yang keluar dari tubuh mungil itu. Dan berakhirlah hidupnya. Lalu anak rawit yang belum bernama itu dimakamkan di makam ciko.
     Rawit pun hanya tinggal dengan anaknya yang kemudian aku namai dengan gembul, karena telah diketahui jenis kelaminnya, jantan. Aku sedikit lega, karena mereka kelak akan menjadi sepasang suami istri, walau si gembul adalah anaknya.
     Selang beberapa hari, rawit menjadi hamster yang galak dan agresif. Gembul menjadi sasaran kegalakan dan keagresifan rawit. Karena trauma akan kejadian yang lampau, aku memisahkan gembol dari rawit. Ternyata rawit hamil. Tanggal 1 Juli  2013 rawit melahirkan dua ekor bayi hamster. Rawit saat itu trerlihat lelah, namun aku mampu melihatnya mengeluarkan sekuat tenaga yang dimilikinya untuk merawat bayinya dengan tujuan supaya mereka mampu bertumbuh dengan baik. Dengan kondisi kesehatan yang semakin menurun. Rawit mencoba untuk merawat kedua anaknya dengan sebaik mungkin.
     Aku tak kuasa menahan perih ketika mengetahui napas rawit terdengar berat, saat dia sesenggukan, saat dia tak mampu tidur dengan tenang karena napasnya yang tak wajar itu. Aku mencoba untuk mencari sumber masalah dari keadaan yang dialami rawit. Susah? Iya. Mencari dokter hamster? Sudah, dan susah ditemukan disini. Keadaan ini makin diperburuk saat nafsu makan rawit hilang.
     Melihat keadaan yang makin buruk, Minggu sore tanggal 21 Juli 2013 rawit dipindahkan di kandang tersendiri supaya dia bisa tenang dan energinya tidak mudah terkuras  untuk menjaga kedua anaknya dan menjaga kesehatan hamster lain kalau-kalau ternyata rawit mempunyai penyakit menular.
     Keadaan rawit mengingatkanku akan keadaan ciko saat akan meninggal dulu. Benar-benar lemah, bergerak pun susah, makanan yang telah disiapkan tidak ada yang disentuhnya, minum pun tak diminum. Aku selalu berdoa kepada Tuhan supaya Tuhan selalu memberi yang terbaik, dan berharap rawit tidak merasakan sakit yang begitu menyakitkan seperti yang aku lihat. Aku ingin rawit segera sembuh dengan total atau kalau tidak, segera dipanggil oleh Tuhan.
     Minggu malam, anak-anak rawit yang berusia dua minggu belum bisa makan dengan lancar. Mereka terpaksa harus sudah dipisahkan dari rawit. Rawit masih bertahan dengan kondisi yang makin menyakitkannya begitu pula menyakitkanku. Senin pagi, rawit tetap seperti itu, keadaan makin buruk, matanya terus menutup dan badannnya basah. Saat itu anaknya sudah mampu makan dengan baik. Minggu sore, anak rawit mampu berteman dengan baik dengan anak white+cabai. Minggu malam, aku menemukan rawit sudah tak bernyawa. Dia telah tidur tenang. Dia telah pergi dengan tenang saat dia sudah memastikan kedua anaknya mampu bertahan hidup sendiri, memiliki teman yang menyayanginya, dan dia telah mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa untuk menyusui anaknya sampai umur dua minggu.
     Rawit, kamu ibu yang baik. Semoga kau tenang disana dan mendapat tempat yang layak di surga bersama anakmu dulu yang telah mendahuluimu. Kamu hamster yang kuat, kamu hamster yang hebat, kamu hamster yang manis, kamu hamster yang luar biasa rawit. Aku menyayangimu. Maaf, kalau aku belum bisa menjadi kakak yang baik untuk kamu. Selamat jalan rawit. Kami, terutama aku, sangat menyayangimu :*