Senin, 22 Juli 2013, pukul 20.15 wib. Selang waktu pukul 16.30
- pukul 20.15 rawit meninggal. Rawit meninggalkan tiga anak dan dua suami, cabe
dan gembul.
Siang itu sekitar awal bulan Mei cuaca sangatlah terik. Aku
masih ingat hari itu hari minggu. Sepulang dari gereja, aku dan ibu pergi ke
Klaten untuk menukar hamster yang aku beli hari jumat. Hamster jenis winter
white yang aku namai winter yang rencananya akan aku jodohkan dengan white,
hamster pemberian Amel, terpaksa harus aku kembalikan untuk ditukar dengan
hamster yang cocok dengan white. Begitu pula hamster pemberian cuma-cuma dari
penjual yang berjenis campbel yang sudah berumur tua yang aku namakan dengan campbel
juga akan aku kembalikan, karena terlalu agresif terhadap white.
Sedih? IYA. Walaupun hanya dua hari aku mengenalnya, tapi
winter dan campbel sudah seperti adik bagiku. Ada rasa tak mau menukar dan
mengembalikan, tapi itu harus dilakukan. White yang saat itu masih remaja sangat
takut dengan winter dan campbel, yang selalu mengejarnya, walau sebenarnya
mereka hanya ingin berkenalan. Tapi apa daya, suara white yang selalu mencicit
ketakutan selalu mengganggu pikiranku, takut sesuatu yang buruk menimpa salah
satu dari mereka.
Sesampainya di toko hamster, aku dan ibu langsung mencari
pengganti untuk winter dan mengembalikan campbel. Campbel saat itu langsung
dilepas di alam liar (Maaf campbel, aku udah jahat sama kamu. Maaf kalau kamu
harus menjalani hidup yang keras di alam liar. Aku baru menyadari kesalahanku
sekitar seminggu kemudian tentang bahaya alam liar yang akan kamu hadapi. Tapi
aku yakin, kamu akan baik-baik saja. Tuhan memberkatimu,Campbel (9._.)9). Karena
sang penjual tidak bisa berlama-lama karena ada keperluan mendadak, aku tanpa
bantuan ibu, karena ibu takut bayi hamster yang masih merah-merah, langsung mencari
pengganti untuk winter.
Karena waktu yang semakin mendesak, maka aku dan ibu
memutuskan untuk membeli yang sepasang saja, tanpa mencocokkan white dengan
hamster jantan lain. White memang susah dan tidak murahan, jadi tidak
sembarangan hamster jantan mampu mendekatinya. Pilihanku kujatuhkan pada
sepasang hamster jenis winter white yang sedang bergerak lincah sembari menatap
jemariku yang mencoba untuk mengenalnya dengan sedikit sentuhan. Baik, aku
putuskan untuk membeli hamster itu. Warna rambutnya mirip dengan white, tapi
badannya lebih besar dan tampak lebih dewasa. Aku suka dan selalu berharap,
mereka bertiga bisa akur nantinya.
Selama perjalanan pulang kedua hamster itu benar-benar tak
bisa diam. Mereka menggerogoti kardus yang dipakai untuk kandang di perjalanan.
Bolong? IYA dan besar. Sesampainya di rumah, kedua hamster baru dan white
terlihat lelah. Aku khawatir, mereka diam dan terlihat lemah. Aku takut mereka
kenapa-kenapa. Lalu dengan berbekal pengalaman, aku melepaskan mereka di lantai
dan membiarkan mereka mengeksplorasi setiap sudut rumah sembari menenangkan
diri mereka sendiri. Benar, mereka kembali pulih setelah beberapa waktu. Tapi
white lalu menyerang kedua hamster baru itu, lalu dengan cepat kupisahkan.
Kedua hamster baru itu kunamakan cabai dan rawit, cabai untuk si pejantan dan
rawit untuk si betina. Karena menurutku itulah nama yang tepat untuk mereka
yang kuat dan keras. Lalu mereka aku masukkan ke aquarium dengan sekat, white
sendiri, sedangkan cabai dengan rawit.
Aku merawat mereka dari Jogja dengan bantuan bapak, ibu,
adek, dan nenek melalui sms. Sepulang aku dari retreat dan telah sampai di
rumah, tepatnya hari sabtu, aku dikejutkan dengan kabar rawit yang melahirkan lima
bayi hamster saat jumat malam. Sontak aku sangat gembira dan langsung melihat
keadaan rawit, karena tidak menyangka rawit telah hamil saat aku pertama kali
membelinya. Sebagai pemula, aku dilanda kecemasan akan kelahiran pertama ini.
Aku mencari berbagai sumber untuk mengetahui perawatan yang nyata untuk keadaan
pasca persalinan seperti ini.
Menurut temanku, induk betina tetap disatukan dengan
bayinya, sedangkan mereka dipisah dengan induk jantannya. Saran itu aku lakukan
sampai usia bayi hamster tiga minggu. Namun selama itu hanya dua bayi yang
mampu bertahan. Selama tiga minggu itu, rawit dikandang bersama bayi hamsternya
terpisah dengan cabai. Si cabai awalnya tinggal sendiri dan tetanggaan dengan
si white, akhirnya karena kesepian maka white mau menerima cabai saat aku
mencoba untuk menyatukan cabai dengan white. Lalu white dan cabai menjadi
sepasang kekasih.
Saat bayi rawit sudah menginjak usia tiga minggu, aku
memindahkannya di aquarium yang tetanggaan dengan pasangan baru, white dan
cabai. Karena aku belum mau memisahkan rawit dengan kedua anaknya, maka aku membiarkan
rawit tetap bersama kedua anaknya, sedangkan cabai dengan white.
Hari itu hari minggu, aku masih ingat betul kejadian pahit
yang menimpa rawit yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri. Saat itu,
tiba-tiba terdengar suara mencicit yang menunjukkan rasa kesakitan yang luar
biasa. Aku langsung berlari memastikan keempat hamsterku baik-baik saja. Aku
ternyata salah. Whita memanjat pagar pembatas dan menggigit salah satu anak
rawit sampai berdarah dan mereka berdua membentuk bola dalam keadaan pause.
Susah melepaskan gigitan white kepada anaknya rawit. Alhasil saat white mau
melepaskan gigitannya, anak itu sudah lemah dan kesakitan dengan kondisi yang
aku sendiri sudah menginginkan segeralah kematian mengunjungi anak itu. Aku tak
kuasa melihat beban penderitaan yang harus ditanggung anak hamster sekecil itu.
Aku terus menemani dan mencoba menyeka darah yang keluar dari tubuh mungil itu.
Dan berakhirlah hidupnya. Lalu anak rawit yang belum bernama itu dimakamkan di
makam ciko.
Rawit pun hanya tinggal dengan anaknya yang kemudian aku
namai dengan gembul, karena telah diketahui jenis kelaminnya, jantan. Aku
sedikit lega, karena mereka kelak akan menjadi sepasang suami istri, walau si
gembul adalah anaknya.
Selang beberapa hari, rawit menjadi hamster yang galak dan
agresif. Gembul menjadi sasaran kegalakan dan keagresifan rawit. Karena trauma
akan kejadian yang lampau, aku memisahkan gembol dari rawit. Ternyata rawit
hamil. Tanggal 1 Juli 2013 rawit
melahirkan dua ekor bayi hamster. Rawit saat itu trerlihat lelah, namun aku mampu
melihatnya mengeluarkan sekuat tenaga yang dimilikinya untuk merawat bayinya dengan
tujuan supaya mereka mampu bertumbuh dengan baik. Dengan kondisi kesehatan yang
semakin menurun. Rawit mencoba untuk merawat kedua anaknya dengan sebaik
mungkin.
Aku tak kuasa menahan perih ketika mengetahui napas rawit terdengar berat,
saat dia sesenggukan, saat dia tak mampu tidur dengan tenang karena napasnya
yang tak wajar itu. Aku mencoba untuk mencari sumber masalah dari keadaan yang
dialami rawit. Susah? Iya. Mencari dokter hamster? Sudah, dan susah ditemukan
disini. Keadaan ini makin diperburuk saat nafsu makan rawit hilang.
Melihat keadaan yang makin buruk, Minggu sore tanggal 21
Juli 2013 rawit dipindahkan di kandang tersendiri supaya dia bisa tenang dan
energinya tidak mudah terkuras untuk
menjaga kedua anaknya dan menjaga kesehatan hamster lain kalau-kalau ternyata
rawit mempunyai penyakit menular.
Keadaan rawit mengingatkanku akan keadaan ciko saat akan
meninggal dulu. Benar-benar lemah, bergerak pun susah, makanan yang telah disiapkan
tidak ada yang disentuhnya, minum pun tak diminum. Aku selalu berdoa kepada
Tuhan supaya Tuhan selalu memberi yang terbaik, dan berharap rawit tidak merasakan
sakit yang begitu menyakitkan seperti yang aku lihat. Aku ingin rawit segera
sembuh dengan total atau kalau tidak, segera dipanggil oleh Tuhan.
Minggu malam, anak-anak rawit yang berusia dua minggu belum
bisa makan dengan lancar. Mereka terpaksa harus sudah dipisahkan dari rawit.
Rawit masih bertahan dengan kondisi yang makin menyakitkannya begitu pula
menyakitkanku. Senin pagi, rawit tetap seperti itu, keadaan makin buruk, matanya
terus menutup dan badannnya basah. Saat itu anaknya sudah mampu makan dengan
baik. Minggu sore, anak rawit mampu berteman dengan baik dengan anak
white+cabai. Minggu malam, aku menemukan rawit sudah tak bernyawa. Dia telah
tidur tenang. Dia telah pergi dengan tenang saat dia sudah memastikan kedua
anaknya mampu bertahan hidup sendiri, memiliki teman yang menyayanginya, dan
dia telah mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa untuk menyusui anaknya sampai
umur dua minggu.
Rawit, kamu ibu yang baik. Semoga kau tenang disana dan
mendapat tempat yang layak di surga bersama anakmu dulu yang telah mendahuluimu.
Kamu hamster yang kuat, kamu hamster yang hebat, kamu hamster yang manis, kamu
hamster yang luar biasa rawit. Aku menyayangimu. Maaf, kalau aku belum bisa
menjadi kakak yang baik untuk kamu. Selamat jalan rawit. Kami, terutama aku, sangat
menyayangimu :*